Borobudur Menjadi Tonggak Awal Pembangunan Dunia Masa Depan

GemilangNews,MAGELANG – Pada tahun 2022 ini Indonesia disepakati menjadi tuan rumah pertemuan negara – negara G20 (Group of Twenty). Untuk bidang kebudayaan digelar di Kawasan Borobudur yang dihadiri oleh pejabat setingkat Menteri Kebudayaan atau Dirjen Kebudayaan dari negara-negara anggota G20, negara-negara undangan dan organisasi internasional.

Adapun tema yang diusung dalam G20 Bidang Kebudayaan pada tahun ini adalah Culture for Sustainable Living (Jalan Kebudayaan untuk Hidup Berkelanjutan).

” Puncak perhelatan G20 di Bidang Kebudayaan di Kawasan Borobudur dijadwalkan berlangsung pada tanggal 12-13 September 2022,” kata Kepala Balai Konservasi Borobudur, Wiwit Kasiyati, Senin 12/09/2022 sore.

Menurutnya, salah satu kegiatan yang telah diagendakan adalah penanaman pohon di halaman sisi barat Candi Borobudur. Sesuai pantauan GemilangNews sejumlah dua puluh lima lubang dan bibit pohon telah disiapkan oleh Balai Konservasi Borobudur untuk ditanam secara simbolis oleh delegasi dari negara-negara G20, negara – negara undangan dan organisasi internasional.

” Jenis pohon yang ditanam adalah Nagasari (Mesua ferrea L) sejumlah 6 batang, Tanjung (Mimusops elengi L.) sejumlah 9 batang, Pulai (Alstonia scholaris (L.) R.Br. sejumlah 3, Asam Jawa (Tamarindus indica L) sejumlah 2 batang, Kenari (Canarium indicum L.) sejumlah 5 batang,” lanjutnya.

Bahkan Wiwit menyampaikan, keempat jenis pohon yang ditanam tersebut tergambarkan dalam relief Candi Borobudur yaitu pada dinding Candi Borobudur terpahat 1460 relief cerita (Karmawibhangga, Lalitavistara, Jataka Avadana/Jatakamala, dan Gandawyuha) serta 1212 relief dekoratif.

Pada relief naratif Candi Borobudur menurut Wiwit terpahat aneka ragam jenis flora dan fauna. Pohon Nagasari terpahat pada relief naratif Lalitavistara pada dinding Lorong 1 deret atas panil nomor 29 dan 75. Pohon Tanjung digambarkan pada relief naratif Karmawibhangga nomor 76 pada kaki candi dan pada dinding Lorong 1 deret atas panil nomor 36. Tanaman Pulai dipahatkan pada relief naratif Lalitavistara pada sisi Timur dinding lorong 1, deret atas, panil nomor 110. Pohon Asam Jawa terpahat pada relief naratif Lalitavistara pada sisi Selatan dinding lorong 1, deret atas, panil nomor 27.

” Untuk Pohon Kenari tidak ditemukan pada relief Candi Borobudur (diperkirakan merupakan tanaman asli Indonesia yang berasal dari daerah Maluku), namun dalam dokumentasi Raffles sebelum dilakukan penebangan pohon dan pembersihan semak belukar di halaman Candi Borobudur, pada halaman sebelah barat Candi Borobudur berjajar rapi pohon Kenari yang berukuran besar, sehingga kuat dugaan bahwa pohon pohon tersebut sengaja ditanam jauh sebelum Rafless datang,” jelasnya.

Penanaman jenis pohon seperti yang terpahat pada relief Candi Borobudur merupakan salah satu bentuk aksi peran kebudayaan pada hidup yang berkelanjutan untuk mewujudkan bumi yang lestari (culture for sustainable living).

Menurut Wiwit Kasiyati, pentingnya kebudayaan sebagai tuntunan dan roh hidup berkelanjutan. Kebudayaan untuk kehidupan yang lebih adil damai sejahtera.

” Ya harapannya Borobudur itu menjadi tonggak awal pembangunan dunia di masa depan dengan bergandengan tangan menyelamatkan warisan dunia baik benda maupun tak benda. Aksi Indonesia untuk dunia, Indonesia Hebat !,” Pungkasnya.(Dw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *